Rabu, 02 Mei 2012

Pandangan Islam Tentang Hidup dan Tuhan


Pandangan Islam Tentang Hidup dan Tuhan

A.    Pandangan Islam tentang hidup
Apa hidup itu? Banyak Jawaban yang dapat dikemukakan berdasarkan berbagai perspektif. Hidup adalah: Gerak atau dinamika, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa hidup adalah sesuatu yang bergerak atau berubah ditandai dengan adanya nyawa dalam sesuatu itu sendiri. Jadi, bagaimanakah pandangan islam tentang hidup itu sendiri?  Banyak yang memberi pengertian terkait dengan pandangan islam tentang hidup, diantanya adalah:
a.       Hidup adalah kesempatan untuk beribadah dan mencari ridhanya, seperti yang telah diungkakapkan dalam Al-qur’an “Dan Aku(Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” Firman Allah ini mengisyaratkan dengan jelas bahwasanya beribadah bagi manusia adalah target, sekaligus tujuan dan tugas dalam hidup ini, disamping kewajiban dan keharusan. Jadi bukan sekedar instrumental, ibadah juga sangat esensial. Didalam beribadah terdapat motif  yang menjadi nafas kehidupan segala tujuan kehidupan orang islam. Masalahnya adalah ada sebagian orang yang menganggap bahwa ibadah hanya bersifat instrumental, sekedar proses, alat, tugas dan bukan tujuan. Karena kata ibadah merupakan kata kerja. Padahal segala tujuan seperti ridha Allah, hasanatan fiddunya wal akhirh, surga dan tujuan muslim mana saja, tidak akan bernilai seperti yang dimaksud, kehilangan makna esensialnya, bila tidak disertai motif dan orientasi ibadah.
Seluruh tujuan itu harus menyatu dengan niat dan warna ibadah. Oleh karena itu “ibadah pun tepat dijadikan tumpuan tujuan hidup”. Tidak mengamalkannya berarti batal meraih tujuan hidup. Kesadaran demikian sangat tepat dijadikan sumber motifasi beramal. Pernyataan ini, tentu saja tidak berarti menolak pendapat yang menegaskan bahwasanya tujuan hidup seorang musim adalah Ridha Allah, surga dan sebagainya. Sebab semua itu hakikatnya merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan. Tujuan Hidup orang islam adalah beribadah alias mencari ridha Allah, dan berarti memperoleh surga. Tidak mengamalkan berarti kegagalan. Ibarat ekspedisi atau kafilah menuju pulau impian, karena asyik di perjalanan akhirnya tesesat di lembah neraka yang sangat mengerikan dan yang abadi menyengsarakan. Disana ia terperangkap dan tak pernah mampu melepaskan diri. Pemahaman dan kesadaran demikian, tetap dijadikan sumber motivasi dan sangat perlu dijadikan sumber motivasi usaha dan berjuang secara terus menerus hingga menjadi hamba Allah yang shaleh. Pandangan islam tentang hidup tersebut diatas, bila berhasil diinternalisasikan kedalam kepribadian peserta didik nicaya menimbulkan implikasi yang sangat positif, besar dan memberikan makna yang luar biasa. Menjadikan hidup dan kehidupan di dunia ini sebagai ladang ibadah alam mazra’atul akhirah, dan mencari ridha Allah.
b.      Hidup adalah medan untuk melaksanakan tugas sebagai khalifah  Allah di muka bumi, sesuai dengan firmannya dalam Al-qur’an yang artinya (“Dan dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebagian kamu atau sebagian (yang lain) berapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberitakan kepadamu, QS Albaqarah :30).
c.       Hidup adalah kesempatan untuk beraktualisasi diri dan beramal kepada Allah yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan sesuai dengan firman Allah daam surat Attaubah ayat 105 yang artinya: “Dan katakanah, bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasulnya beserta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan itu, dan kamu akan dikembalikanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. Jadi hidup adalah medan untuk berkiprah, berusaha, dan bekerja. Kemalasan dan keengganan beramal merupakan sumber kegagalan serta kehinaan. Setiap amal positif hendaknya diniatkan ibadah. Karena nilai perbuatan menurut islam tidak lepas, bahkan ditentukan oleh niat dan motivasinya. Hidup merupakan kesempatan menabung pahala dengan amal. Pelaku akan memperoleh balasan yang belipat di akhirat kelak, selain menuai buah yang sebagian diantaranya sudah dapat dinikmati di dunia. Hal ini sesua dengan firman Allah dalam Al-qur’an surah Al-zalzalah ayat 7-8: (Barang siapa yang menygerjakan kebaikan seberat zarrah niscaya dia akan melihat balasanya dan barang siapa yang melakukan keburukan seberat zarrah, dan ia juga akan menerima balasannya).
d.      Hidup sebagai tempat ujian. Dilihat dari segi ini, ujian tidak hanya berupa musibah, penderitan dan realitas yang tidak diharapkan. Kenikmatan serta pilihan-pilihan yang diharapkan juga ujian. Aneka warna ujian yang terdapat di dunia ini, seperti firman Allah Qs.Alkahfi ayat 7 yang artinya: (“Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang ada dibumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapa diantara mereka yang terbaik perbuatannya).
Oleh karna itu muslim dan muslimah harus sabar dan tidak berputus asa bila mengalami musibah atau sesuatu yang tidak diharapkan. Ia juga tidak lupa diri dari dan sombong bila menjadi kaya, memperoleh jabatan dan kenikmatan-kenikmatan duniawi lainnya. Karena ia selalu ingat, setiap keadaan dan kejadian dalam hidup dan kehidupan dunia ini, hakikatnya merupakan ujian yang harus ia hadapi secara baik dan proposiaonal.
      Maka wawasan islam tentang hidup dan kehidupan seperti yang telah dijelaskan diatas mestinya diajarkan dan diinternalisasikan ke dalam diri (cara berfikir, pandangan, keyakinan dan falsafah hidup) peserta didik, menjadi nilai-nilai yang membentuk konsep diri dan sikap hidupnya. Namun dalam proses internalisasi perlu diiringi dengan wawasan realistik keduniaan yang beraneka ragam, dengan analisis yang cerdas dan proposional, hinga perserta didik terhindar dari sikap mudah frustasi, kehilangan pegangan, terjerumus kepada pemahaman parsial, ekstrom, dan sebagainya. Peserta didik lalu memiliki pendirian dan sikap hidup yang bisa dipertangungjawabkan, mantap,  toleran dan kreatif proposional.

B.     Pandangan Islam Tentang Tuhan
a)      Pengertian Tuhan[1]
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Tuhan adalah sesuatu yang diyakini, dipuja, disembah oleh manusia, sebagai yang Maha Kuasa, Maha Perkasa dan lain sebagainya.
Berangkat dari pengertian Tuhan seperti tersebut di atas, maka dalam dinamisme, kekuatan gaib yang misterius adalah Tuhan. Dalam Animisme, ruh adalah Tuhan. Dalam politeisme; Indra, Vitra dan Varuna dalam agama Veda adalah Tuhan. Brahma, Wisnu dan Syiwa dalam agama Hindu adalah Tuhan. Osiris, Isis dan Herus dalam agama Mesir Kuno adalah Tuhan. Al-Latta, al-Uzza dan Manata dalam agama Arab Jahiliyah adalah Tuhan. Dalam agama Kristen, Allah Tritunggal adalah Tuhan dan dalam agama Islam Allah SWT adalah Tuhan.
Jadi Tuhan itu memang banyak, sebanyak agama yang ada di dunia ini dan yang dianut manusia. Sedangkan Indra, Vitra dan Varuna; Brahma, Wisnu dan Syiwa; Allah Tritunggal dan Allah SWT adalah nama-nama Tuhan. Dengan perkataan lain, Tuhan adalah nama jabatan. Sedangkan Indra, Vitra dan Varuna; Brahma, Wisnu dan Syiwa, Allah Tritunggal dan Allah SWT adalah nama diri Tuhan. Jika dianalogikan dengan perkataan Presiden, yakni Presiden adalah nama jabatan tertinggi pada Negara republik. Karena itu, Negara-negara yang berbentuk republik ada pejabat yang disebut presiden, sedangkan nama diri dari presiden berbeda-beda seperti Susilo Bambang Yudhoyono, George W. Bush, Saddam Husein dan sebagainya adalah nama diri dari presiden.
b)      Pengertian Tuhan dalam Perspektif Islam[2]
Untuk mengetahui pengertian Tuhan dalam Islam, maka perlu dikaji rujukan dari al-Qur’an tentang kata-kata yang memiliki makna Tuhan. Dalam al-Qur’an, perkataan Tuhan dikenal dengan istilah Rabb, Maalik atau Malik dan Ilaah. Masing-masing istilah tersebut mempunyai tekanan arti sendiri-sendiri.
I.  Rabb
Dalam al-Qur’an, perkataan Rabb sering dihubungkan dengan kata kerja seperti yang terdapat di dalam surat al-Alaq (96) ayat 1-5:
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.
Perkataan ‘Rabb’ yang dihubungkan dengan kata kerja juga terdapat di dalam al-Qur’an surat al-A’la (87) ayat 1-5:
Artinya: “Sucikanlah nama Tuhanmu yang Paling Tinggi, yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya) dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberikan petunjuk dan yang menumbuhkan rumput-rumputan, lalu dijadikan-Nya rumput itu kehitam-hitaman”.
Dalam surat al-Alaq (96) ayat 1-5 itu terdapat empat kata kerja, yaitu dua kata kerja ‘menciptakan’ dan dua kata kerja ‘mengajar’, sedangkan dalam al-Qur’an surat al-A’la (87) ayat 1-5 itu terdapat kata kerja: menciptakan, menentukan, memberi petunjuk, menumbuhkan dan menjadikan. Karena itu, Rabb mempunyai pengertian Tuhan yang berbuat aktif. Jadi, Dia hidup dan ada dengan sesungguhnya, bukan ada dalam pikiran saja.
Selanjutnya, kata Rabb dapat dipakai untuk menyebut selain Allah SWT, seperti yang terdapat dalam surat al-Taubah (9) ayat 31 yang berbunyi: Artinya: “Mereka menjadikan orang-orang alim mereka dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah”.
II.  Malik
Dalam al-Qur’an, kata Malik dipakai untuk menunjuk pada Tuhan yang berkuasa, mempunyai, memiliki atau merajai sesuatu. Al-Qur’an surat al-Fatihah (1) ayat 4 menyebutkan: maalikiyaumi al-din, artinya yang menguasai hari pembalasan, sedangkan di dalam surat al-Nas (114) ayat 2 menyebutkan: malik al-nas, artinya Raja manusia.
Secara kronologis, kata Malik menduduki jabatan kedua setelah Rabb, artinya apabila Rabb itu menunjuk pada yang berbuat aktif, maka Malik menunjuk pada yang menguasai semua apa yang telah diperbuat-Nya tadi. Karena kedua kata itu ditujukan kepada Allah SWT, maka berarti bahwa Allah SWT itu pencipta alam dan Dia pula yang menguasainya.
III.  Ilaah
Secara etimologis ‘Ilaah’ mempunyai arti sebagai yang disembah dengan sebenarnya atau tidak sebenarnya.13 Apa saja yang disembah manusia, dia itu Ilaah namanya. Apabila manusia menyembah hawa nafsunya dalam arti selalu mengikuti jejaknya, maka hawa nafsu itulah Ilahnya atau Tuhannya yang disembah. Al-Qur’an surat al-Furqon (25) ayat 44 menyebutkan: Artinya: “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya”.
Meskipun segala sesuatu dapat disebut sebagai Ilaah, namun Ilaah yang sebenarnya ialah Ilaah yang mempunyai jabatan Robbun dan Malikun. Dengan kata lain, walaupun segala sesuatu dapat dipertuhan dan disembah manusia, namun Tuhan yang sebenarnya yang berhak disembah manusia ialah Tuhan pencipta dan penguasa alam semesta yaitu Allah SWT.
Ibnu Jarir berpendapat sesungguhnya berdasarkan kepada apa-apa yang diriwayatkan kepada kami oleh Ibnu Abbas menyatakan bahwa Allah itu ialah Empunya Ketuhanan dan yang Empunya penyembahan wajib atas makhluk-Nya seluruhnya.
Sibawaih menyebutkan keterangan dari Khalil bahwa asal kata ‘Allah’ ialah Ilah, lalu ditambahkan alif menjadi Ilaah, sedangkan huruf lam di depannya sebagai ganti dari huruf hamzah. Acuan kata dari Ilaah adalah fi’aal. Begitu juga contoh lainnya adalah al-naasu asalnya dari unaasun.
Al-Kasa’i dan al-Farra berpendapat bahwa asal perkataan Allah itu dari kata al-Ilaah, lalu dibuang hamzah huruf ‘i’. Kemudian huruf ‘l’ (lam) pertama itu dimasukkan kepada huruf ‘l’ (lam) yang kedua, maka jadilah perkataan ‘ALLAH’.
Pendapat senada juga diungkapkan oleh Ibnu Abbas bahwa asalnya ialah al-Ilaahu artinya yang disembah, lalu dibuang hamzah yaitu huruf i, maka bertemulah huruf l (lam) dan huruf l (lam), berarti berkumpulnya huruf l (lam) pertama dan huruf yang l (lam) kedua menjadi dua huruf l (lam). Ucapannya disangatkan, dilisankan menjadi ‘Alloh’.
Karena Allah SWT adalah Tuhan yang sebenarnya yang berhak disembah manusia, dan Dia adalah Tuhan pencipta alam semesta serta penguasanya, maka manusia dilarang mengangkat sekutu bagi-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah (2) ayat 22: Artinya: “Janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”
Dari penjelasan ayat tersebut jelaslah bahwa Allah SWT melarang manusia mengangkat tandingan-tandingan yang menjadi sekutu bagi Allah. Maksudnya ada persamaan-persamaan dalam ibadah dan ketaatan. Padahal dia mengetahui bahwa amal perbuatan itu diperuntukkan kepada Allah saja bukan kepada lain-Nya, hanyalah Dia yang menjadi Tuhan mereka, Penciptanya dan Pencipta orang-orang sebelumnya. Pencipta bumi yang terhampar dan langit yang terbina. Dia yang menurunkan air dari langit, kemudian dengan itu pula Dia menyegarkan tumbuhnya bermacam-macam buah-buahan sebagai rezeki bagi mereka. Jadi, seseorang yang telah mengetahui yang demikian itu, tidak diperkenankan mengangkat sekutu-sekutu sebagai tandingan Allah.
Menurut riwayat Ibnu Abi Hatim bahwa syirik dapat menjelma dalam ungkapan-ungkapan kata seperti, “Demi Allah dan demi kehidupanmu hai Fulan, demi hidupku”, dan ucapan, “Kalau tidak ada anjing ini kita didatangi pencuri”, dan kalimat “Kalau tidak ada angsa kecil di rumah itu tentu akan didatangi oleh pencuri”. Demikian juga kata-kata seseorang kepada temannya, “Apa yang dikehendaki oleh Allah dan kehendakmu”, dan ucapan seseorang “Kalau bukan karena Allah dan Fulan”. Seseorang tidak diperkenankan mencantumkan di dalamnya kata-kata fulan karena inilah semuanya yang menyebabkan syirik.
Atsar tersebut di atas, menurut Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab memiliki sanad yang baik, dan ia mengatakan bahwa kata-kata tersebut ialah yang lebih tersembunyi daripada semut halus di atas batu hitam di kegelapan malam. Artinya, perkara-perkara ini adalah syirik yang tersembunyi di kalangan manusia, tidak ada yang menyelidiki dan mengetahuinya kecuali sedikit dan dijadikan perumpamaan demikian karena tersembunyinya hal tersebut dengan selubung yang rapi.
Oleh karena itu, kita harus hati-hati dan selektif dalam berbuat dan berkata supaya terhindar dari syirik sebab perbuatan syirik sangat riskan, bisa membuat pelakunya menjadi kafir. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Maidah (5) ayat 17 dan ayat 73 yang artinya: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih putera Maryam. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”.
Amal orang-orang kafir tidak mendapatkan pahala di sisi Allah. Di dalam al-Qur’an digambarkan bahwa amal orang kafir seperti fatamorgana. Dari jauh kelihatan ada air, tetapi ketika didekati tidak ada apa-apa. Sebagaimana terdapat di dalam surat an-Nur (24) ayat 39 yang artinya: “Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun”.
Jadi, Untuk memperoleh pengetahuan siapa dan bagaimana Allah, manusia mesti menempuh jalan iman sepenuh iman.
IV.  Pengertian Iman
Kebanyakan orang menyatakan bahwa kata iman berasal dari kata kerja amina-yu’manu-amanan yang berarti percaya. Oleh karena itu, iman yang berarti percaya menunjuk sikap batin yang terletak dalam hati. Akibatnya, orang yang percaya kepada Allah dan selainnya seperti yang ada dalam rukun iman, walaupun dalam sikap kesehariannya tidak mencerminkan ketaatan dan kepatuhan (taqwa) kepada yang telah dipercayainya, masih disebut orang yang beriman. Hal itu disebabkan karena adanya keyakinan mereka bahwa yang tahu tentang urusan hati manusia adalah Allah dan dengan membaca dua kalimah syahadat telah menjadi Islam.
Dalam surah al-Baqarah ayat 165  dikatakan bahwa orang yang beriman adalah orang yang amat sangat cinta kepada Allah (asyaddu hubban lillah). Oleh karena itu beriman kepada Allah berarti amat sangat rindu terhadap ajaran Allah, yaitu Al-Quran menurut Sunnah Rasul. Hal itu karena apa yang dikehendaki Allah, menjadi kehendak orang yang beriman, sehingga dapat menimbulkan tekad untuk mengorbankan segalanya dan kalau perlu mempertaruhkan nyawa.
Dalam hadits diriwayatkan Ibnu Majah Atthabrani, iman didefinisikan dengan keyakinan dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dengan amal perbuatan (Al-Immaanu ‘aqdun bil qalbi waigraarun billisaani wa’amalun bil arkaan). Dengan demikian, iman merupakan kesatuan atau keselarasan antara hati, ucapan, dan laku perbuatan, serta dapat juga dikatakan sebagai pandangan dan sikap hidup atau gaya hidup.
Istilah iman dalam al-Qur’an selalu dirangkaikan dengan kata  lain yang memberikan corak dan warna tentang sesuatu yang diimani, seperti dalam surat an-Nisa’:51 yang dikaitkan dengan jibti (kebatinan/idealisme) dan thaghut (realita/naturalisme). Sedangkan dalam surat al-Ankabut: 52 dikaitkan dengan kata bathil, yaitu walladziina aamanuu bil baathili. Bhatil berarti tidak benar menurut Allah. Dalam surat lain iman dirangkaikan dengan kata kaafir atau dengan kata Allah. Sementara dalam al-Baqarah: 4, iman dirangkaikan dengan kata ajaran yang diturunkan Allah (yu’minuuna bimaa unzila ilaika wamaa unzila min qablika).
Kata iman yang tidak dirangkaikan dengan kata lain dalam al-Qur’an, mengandung arti positif. Dengan demikian, kata iman yang tidak dikaitkan dengan kata Allah atau dengan ajarannya, dikatakan sebagai iman haq.  Sedangkan yang dikaitkan dengan selainnya, disebut iman bathil.
V.  Wujud Iman
Akidah Islam dalam al-Qur’an disebut iman. Iman bukan hanya berarti percaya, melainkan keyakinan yang mendorong seorang muslim untuk berbuat. Oleh karena itu lapangan iman sangat luas, bahkan mencakup segala sesuatu yang dilakukan seorang muslim yang disebut amal saleh.
Seseorang dinyatakan iman bukan hanya percaya terhadap sesuatu, melainkan kepercayaan itu mendorongnya untuk mengucapkan dan melakukan sesuatu sesuai dengan keyakinan. Karena itu iman bukan hanya dipercayai atau diucapkan, melainkan menyatu secara utuh dalam diri seseorang yang dibuktikan dalam perbuatannya.
Akidah Islam adalah bagian yang paling pokok dalam agama Islam. Ia merupakan keyakinan yang menjadi dasar dari segala sesuatu tindakan atau amal. Seseorang dipandang sebagai muslim atau bukan muslim tergantung pada akidahnya. Apabila ia berakidah Islam, maka segala sesuatu yang dilakukannya akan bernilai sebagai amaliah seorang muslim atau amal saleh. Apabila tidak beraqidah, maka segala amalnya tidak memiliki arti apa-apa, kendatipun perbuatan yang dilakukan bernilai dalam pendengaran manusia.
Akidah Islam atau iman mengikat seorang muslim, sehingga ia terikat dengan segala aturan hukum yang datang dari Islam. Oleh karena itu menjadi seorang muslim berarti meyakini dan melaksanakan segala sesuatu yang diatur dalam ajaran Islam. Seluruh hidupnya didasarkan pada ajaran Islam.
VI.  Proses Terbentuknya Iman
Spermatozoa dan ovum yang diproduksi dan dipertemukan atas dasar ketentuan yang digariskan ajaran Allah, merupakan benih yang baik. Allah menginginkan agar makanan yang dimakan berasal dari rezeki yang halalanthayyiban. Pandangan dan sikap hidup seorang ibu yang sedang hamil mempengaruhi psikis yang dikandungnya. Ibu yang mengandung tidak lepas dari pengaruh suami, maka secara tidak langsung pandangan dan sikap hidup suami juga berpengaruh secara psikologis terhadap bayi yang sedang dikandung. Oleh karena jika seseorang menginginkan anaknya kelak menjadi mukmin yang muttaqin, maka isteri hendaknya berpandangan dan bersikap sesuai dengan yang dikehendaki Allah.
Benih iman yang dibawa sejak dalam kandungan memerlukan pemupukan yang berkesinambungan. Benih yang unggul apabila tidak disertai pemeliharaan yang intensif, besar kemungkinan menjadi punah. Demikian pula halnya dengan benih iman. Berbagai pengaruh terhadap seseorang akan mengarahkan iman/kepribadian seseorang, baik yang datang dari lingkungan keluarga, masyarakat, pendidikan, maupun lingkungan termasuk benda-benda mati seperti cuaca, tanah, air, dan lingkungan flora serta fauna.
Pengaruh pendidikan keluarga secara langsung maupun tidak langsung, baik yang disengaja maupun tidak disengaja amat berpengaruh terhadap iman seseorang. Tingkah laku orang tua dalam rumah tangga senantiasa merupakan contoh dan teladan bagi anak-anak. Tingkah laku yang baik maupun yang buruk akan ditiru anak-anaknya. Jangan diharapkan anak berperilaku baik, apabila orang tuanya selalu melakukan perbuatan yang tercela. Dalam hal ini Nabi SAW bersabda, “Setiap anak, lahir membawa fitrah. Orang tuanya yang berperan menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi”.
Pada dasarnya, proses pembentukan iman juga demikian. Diawali dengan proses perkenalan, kemudian meningkat menjadi senang atau benci. Mengenal ajaran Allah adalah langkah awal dalam mencapai iman kepada Allah. Jika seseorang tidak mengenal ajaran Allah, maka orang tersebut tidak mungkin beriman kepada Allah.
Seseorang yang menghendaki anaknya menjadi mukmin kepada Allah, maka ajaran Allah harus diperkenalkan sedini mungkin sesuai dengan kemampuan anak itu dari tingkat verbal sampai tingkat pemahaman. Bagaimana seorang anak menjadi mukmin, jika kepada mereka tidak diperkenalkan al-Qur’an.
Di samping proses pengenalan, proses pembiasaan juga perlu diperhatikan, karena tanpa pembiasaan, seseorang bisa saja semula benci berubah menjadi senang. Seorang anak harus dibiasakan untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi hal-hal yang dilarang-Nya, agar kelak setelah dewasa menjadi senang dan terampil dalam melaksanakan ajaran-ajaran Allah.
Berbuat sesuatu secara fisik adalah satu bentuk tingkah laku yang mudah dilihat dan diukur. Tetapi tingkah laku tidak terdiri atas perbuatan yang tampak saja. Di dalamnya tercakup juga sikap-sikap mental yang tidak selalu mudah ditanggapi kecuali secara fisik langsung (misalnya, melalui ucapan atau perbuatan yang diduga dapat menggambarkan sikap mental tersebut), bahkan secara tidak langsung itu adakalanya cukup sulit menarik kesimpulan yang teliti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar